menghapus kenang,
meluruhkan bulirbulir rindu
satu per satu
masihkah kenang itu menggenang?
aku masih mengelap kenang,
membersihkannya dari debudebu yang membuatnya tak gemintang
masihkah ia menjadi pemenang
dan pemilik hatimu di akhir desembermu?
bahkan ia masih memenuhi ruang hatiku,
mengisi kekosongan ruang rinduku
matanya, puisi
senyumnya, puisi
meski ruang kenang itu masih amatlah lapang,
namun percayalah bahwa lukisan dindingnya telah usang.
saatnya kau kelir ia dengan sulur pelangi,
matahari akan menjulurkan cahayanya
dan hujan sejuk menitiskan aroma masa depan.
menarilah kalian di sana,
di bawah jendela rumah beratapkan
teduh titahNya.
saat Ia berkehendak
kenang itu akan terhapus
bersama waktu yang membebat seluruh rindu
dan akan ada cerita baru
tentang aku dan kamu