Monthly Archives: September 2011

senja yang jingga

senja yang jingga

hei, petualang senja
apa kabar jinggamu?

ah cinta, ternyata senja sedang ramah padaku
ia selalu mengajak tersenyum sejak sejam yang lalu
meski awan kelabu sedang menaungiku

ini senja yang sama
senja yang tak kenal jeda untuk merapal doa paling mantra
senja yang mengembangkan sayap malaikat untuk mencatat amal jua pinta kita padaNya
ia juga menyapaku,
hangat

senja dengan sabar membawa waktu ke mulut fajar
mengaminkan jutaan pinta yang memenuhi tujuh petala langitnya

usai senja berpamitan,
Ia menjanjikanku bertemu bintangbintang
menawarkan kedamaian dari kerling manjanya
kupetik dan kusimpan satu untukmu
“semoga kau suka”
aku mendoa.

lihat lihat
bintangbintang itu memindahkan sinarnya di wajahmu
tak perlulah aku menyalakan lampu untuk melihat cinta di matamu

@rainytien & @diajengadjeng
07.06.11

pagi, hujan!

pagi, hujan!

selamat pagi, cinta!
tetaplah berpendar seperti mentari

ah, aku berkaca membacanya.. :’(

ada pesan yang belum bisa kubaca,
huruf-huruf kecil yang kau gurat
di kaca jendela saat hujan kemarin lusa

biarlah ia tetap rahasia.
hingga doa-doa mampu menyublimnya menjadi cahaya.
menjelma airmata bahagia saat
ia menggenapkan purnama diantara kerlip gemintang bersahaja.
maka itulah saat paling makna.
untukku,
untukmu,
untuknya.

@diajengadjeng & @rainytien
31.05.11

fajar – senja

fajar – senja

pagi hujan;
pesan yang kau tulis di kaca jendela jua mampu kubaca.

jangan-jangan kau menghapusnya tanpa sadar saat menyeka air mata
kala pagi berkabut hingga senja pun
kau masih kalut

karena senja selalu indah.
ia adalah jeda yang tercipta pada rebah sajadah.
dan fajar itu selalu memijar, 
tempat kita menghidu semangat matahari yang memancar hangat.

@rainytien & @diajengadjeng
18.05.11

sebab ia rindu

sebab ia rindu

pagi, cantik! sesekali ingin juga menyapa dari rumah berlumut merah jambu
lihatlah di beranda, dedaun jatuh berserak sebagai serpihan rindu yang ingin kusapu.

jelang siang, tjintah! percuma kau sapu dedaun itu karena ia akan terus berguguran layaknya rindu yg tak tahu malu.

apakah perlu kusulut api, agar ia hanya menyisa abu?

abu itupun akan lesap bersama tanah yang kan menyuburkan rindu dedaun pada embun.

jadi lebih baik kubiarkan ia terus bertumbuh,
mengakar dari ketabahan tanah,
merimbun keikhlasan dedaun,
meski pada akhirnya akan jatuh oleh angin yang sama yang membisikkan kata-kata berbeda?

rindu adalah rindu,
ia terus meluruh pada daun,
rebah bersama dzikir2 tanah.

rindu adalah rindu,
ia rasa paling tabah yg menjelma doa saat awan merindu hujan.

rindu adalah rindu,
ia adalah sekat terjauh dari hatihati yang paling dekatpun.

sebab ia rindu,
jeda yang nyata diberikan Tuhan agar cinta kembali menemui kebermaknaannya.

18.05.11
@diajengadjeng & @rainytien

pelangi itu, cinta!

pelangi itu, cinta!

Tak ada biru, merah, atau ungu.
hanya kelabu.

Hei, tapi gemintang itu tak hilang dari matamu.
bersenyawa dengan rekah mawar beraroma cinta.

Aih, tapi gemerlap sinarnya menjelma bebulir air menitik dari sudut mata.

Tapi taukah kau?
Bulir bening itu adalah bilur rinduNya padamu.

Jiwa yang sungguh terlalu.
Merapat mendekat saat pilu menghunjam kalbu.

..dan Iapun menyediakan ampun tanpa batas.
Memberikan 2 tangan, 2 pundak untuk mengangkat beban,
menjanjikan 2 kemudahan dalam sebuah kesulitan.
Maka kita takkan tertarik dengan misteri ungu jika tak tergenang biru.

Sungguh, ketenangan jiwa dirasa saat membincangi cinta bersama sang pencinta kata.

Aih, cinta itu bak bungabunga yg bermekaran sendiri tersebab mata airNya abadi.
Dan, kau adalah alarm untukkku slalu mengisinya

02.05.11
@diajengadjeng & @rainytien